Friday, 16 October 2015

Study Excursie Prodi Ilmu Perpustakaan

Study Excursie (SE), jadi seperti kuliah, tetapi langsung terjun ke lapangan. Sudah bisa ditebak saya akan kemana? Ke perpustakaan, tepat sekali. Bayarnya tiga ratus ribu, katanya makannya lima kali. Study Excursie ini berlangsung dua hari. Hari senin jam lima pagi katanya sudah harus ngumpul. Pasti terlambat, sudah saya duga sebelumnya. Saya datang kurang dari jam lima, berangkatnya jam enam. Kapan ya suatu acara tidak jam karet? Saya jadi ingin membuat seminar atau suatu acara, dan tepat waktu, itu intinya.

Waktu itu saya pernah mengikuti seminar tentang desa. Mungkin akan saya ceritakan lebih lanjut di postingan berikutnya. Intinya, ditulisannya jam delapan pagi, mulainya jam sepuluh. Bisa dibayangkan, betapa telatnya. Saya sampai bosan menunggu. Menunggu sesuatu yang pasti saja menyebalkan, apalagi menunggu sesuatu yang tidak pasti. Sebenarnya ini hanya masalah kedisiplinan, seharusnya displin dan tepat waktu itu ialah kunci sebuah acara.

Kembali ke SE. Persiapan saya hanya membawa dua baju, sama satu celana. Udah gitu aja. Nggak bawa snack, perlengkapan mandi dan sebagainya. Masalahnya saya hari minggu ada diklat RSC. Pulangnya sore menjelang malam. Saya udah kelelahan, duit dah habis. Mau beli snack, nggak punya duit. Mau bawa perlengkapan mandi juga lupa dan baru ingat ketika sudah sampai di bis. Jadi saya cuma bawa almamater sama baju dan celana ganti. 

Disuruh merapat, kemudian di absen. Dibagikan id card sama rundown acara. Ketika sudah didalam bis, kami dapat snack dan minum. Saya senang sekali, isinya ada dua roti, sama minum. Pertama, kami jalan ke Surabaya. Lebih tepatnya ke Badan Perpustakaan dan Arsip Jawa Timur. Kami masuk ke dalam, lihat-lihat tempatnya. Pakai almamater biar kelihatan keren. Setelah lihat-lihat, kami dikumpulkan di sebuah tempat, kursinya sekitar seratus lebih. Sebelum masuk dikasih snack, isinya roti. Kalau dikasih snack, langsung saya habiskan. Bapaknya lebih bicara ke undang-undang tentang pelayanan publik, survei kepuasan masyarakat, keterbukaan informasi publik.

Istirahat, shalat dan makan. Makan sambil bisnya jalan, goyang-goyang. Tapi saya nggak pusing, tumben. Selanjutnya ke perpustakaan UNAIR. Kami disambut oleh himpunan prodi perpustakaan UNAIR. Masih pakai almamater. Jalan kaki dari bis, ke perpustakaan. Kami bersama-sama masuk ke dalam perpustakaan UNAIR. Di dalam auditorium, sebelum masuk dikasih snack lagi, isinya roti, nyam-nyam.

Dosennya membanggakan prodi ilmu perpustakaan UNAIR. Katanya prodinya sudah berdiri 12 tahun, terakreditasi B. Sedangkan prodi Ilmu Perpustakaan UB sendiri, baru berdiri 5 tahun, sudah terakreditasi A. Saya mau bilang begitu, tapi nggak enak, yaudah saya habiskan saja rotinya, untung rotinya enak. Kemudian kepala perpustakaan UNAIR yang berbicara, ternyata dia alumni UB, dan membanggakan UB, anak-anak pada tepuk tangan.

Setelah ke perpustakaan UNAIR, dilanjutkan ke perpustakaan Universitas Kristen PETRA. Keren sekali perpustakaannya, bagus, kayak mall. Terakreditasi A. Ini baru perpustakaan, nanti saya mau magang disini. Soalnya perpustakaannya teroganisir dengan baik. Dan juga fasilitasnya lengkap, desain ruangannya juga bagus. Sebelum pulang, dikasih snack lagi, isinya roti. Rotinya lembut, tetapi lingkaran ujungnya keras. Subhanallah, enak sekali, perpaduan lembut dan keras.

Menunggu, menunggu, menunggu. Bisnya mogok atau gimana, saya nggak tahu. Menunggu dari jam lima sore sampai malam jam sembilan kalau nggak salah. Jam sepuluh dapat makan. Yeay. Akhirnya makan juga. Setelah makan. Bisnya berangkat. Kali ini kami berangkat ke Jogja. Tidur di bis.

Jam setengah lima. Sampai disebuah masjid. Mandi di kamar mandi. Saya nggak mandi, cuma ganti baju. Setelah itu berangkat lagi, kali ini ke perpustakaan UII. Saya agak kesal sebenarnya, awal-awal berangkat lagunya bagus, tapi sekarang? Lebih banyak lagu dangdut. Meski lagu dangdut ada yang enak juga, tapi saya nggak suka.

Begitu sampai di UII. Gedungnya bagus sekali. Katanya ada candi yang ditemukan sewaktu ingin membangun perpustakaan. Perpustakaan UII terakreditasi A. Sebelum jalan-jalan melihat perpustakaan UII, ada diskusi terlebih dahulu. Dan dapat snack, isinya paling banyak dari yang lain. Ada roti, risol, kue lembut, ada kue pisang. Penjelasan materi dilakukan oleh kepala perpustakaan UII. Kemudian ada sesi tanya jawab. Yang bertanya dapat buku pedoman, saya angkat tangan. Bertanya. Dapat buku!


Perpustakaan UII Jogja
Perpustakaan UII

Saya jadi mau magang disini juga. Perpustakaannya bagus sekali. Desainnya bagus, luar dan dalam. Keren pokoknya. Banyak yang foto-foto. Sebenarnya saya nggak suka di foto. Tapi sekali-kali bolehlah, ternyata menyenangkan juga. Si Afib, dia menjadi panitia PDD. Bawa kamera yang bagus. Saya jadi ingin mencoba foto pakai kamera itu.

Setelah ke UII, kini saatnya ke perpustakaan UGM. Diluar ekspektasi saya. Perpustakaannya tidak terlalu menarik. Kami datang, tidak suguhi snack, tetapi hanya air mineral dan gantungan kunci. Kata teman saya, satu gantungan kunci harganya sama seperti satu snack. Sebelumnya memang dalam perjalanan ke UGM, di dalam bis sudah dikasih makan siang, nasi kotak. Tetapi saya masih mau snack. Lalu ada sedikit penjelasan dari pemateri. Pak Wahyu menjelaskan bahwa dia sudah menulis buku. Saya jadi termotivasi untuk menulis buku juga.

Sehabis dari perpustakaan UGM, kami ke perpustakaan UIN SUKA (Sunan Kalijaga). Masjidnya luar biasa. Luas dan bagus. Lalu dilanjutkan ke perpustakaan, yang katanya memiliki layanan bagi pemustaka disabilitas. Saya lihat perpustakaannya, biasa saja. Tetapi di perpustakaan ini, saya menemukan fenomena sosial! 


Fenomena Sosial
Itu jalan buat disabilitas, bukan buat parkir mobil


Bukankah seharusnya jalan itu bagi pemustaka disabilitas? Kenapa parkir kendaraan disitu. Ini merupakan masalah. Ingin saya tanya dalam diskusi. Akhirnya kami masuk ke dalam sebuah ruangan. Saya tidak mendapat apapun, tidak dapat snack dan air mineral. Kepala perpustakaannya datang, berbicara, terus udah, jalan-jalan. 

Kemudian ke Malioboro. Ramai sekali. Banyak kegiatan transaksi jual beli. Saya mengikuti Afib. Dia membeli bakpia, saya juga ikut beli. Saya membeli dua jam tangan. Si Afib beli dua baju, sama jam tangan. Duit saya cuma sedikit, jadi nggak bisa beli baju, padahal bajunya bagus. Setelah keliling-keliling, kami kembali ke bis. Perjalanan selanjutnya kembali ke Malang.

Thursday, 1 October 2015

Kuliah Sore


Berjalan menuju tempat kuliah. Rasanya menyenangkan, tetapi yang mengganggu adalah asap kendaraan, asap rokok dan lain-lain. Jika terbebas dari asap tersebut, pastilah menyenangkan sekali. Saya berjalan melewati jalan raya, masuk ke gerbang dengan ornamen gapura, berwarna batu bata, menghirup udara karbon dioksida dan oksigen yang bercampur menjadi satu. Terlihat satpam sedang mengecek SIM pengendara motor yang lewat satu-persatu.

Saya berjalan melangkah, melewati gerbang. Disamping kiri beberapa atm, berjajar rapi, sama rapinya dengan orang yang menunggu masuk. Menyebrang jalan. Melihat sebuah gedung yang bagus, tempat calon-calon dokter dilahirkan. Betul sekali, Fakultas Kedokteran. Sebenarnya saya ingin masuk sini, disuruh ibu saya juga, cuma saya lebih memilih Ilmu Perpustakaan. Tetapi saya tidak menyesal dengan hal itu, karena dimanapun kita berada, kita harus tetap optimis pada masa depan.

Kuliah sore, agak melelahkan sebenarnya. Dari sore sampai malam. Setelah selesai kuliah, saya pulang berjalan kaki. Berebut oksigen dengan pohon-pohon dan tanaman. Bahkan mereka mengeluarkan karbondioksida sangat banyak. Bisa-bisa saya kehabisan oksigen. Napas saya terengah-engah, ketika selesai berlari. Agar segera sampai dikosan. Meskipun jalan saya cepat, tetapi lebih cepat berlari. Cuma saran saya, jangan lari pada malam hari, soalnya pohon-pohon banyak mengeluarkan karbondioksida.

Saya berjalan melewati jalan raya. Kembali melangkah dengan perut hampa. Mendongakkan kepala, melihat harga di SPBU. Hmm.. harganya masih tetap sama, dan juga masih banyak motor yang mengantri membeli bensin. Kenapa ya pada naik motor? Kenapa nggak jalan kaki? Atau kalau boleh naik sepeda? Tidakkah kau sadar, polusi dimana-mana. Membuat sesak. Apalagi mereka yang terkena kabut asap, atau jerebu, saya merasa empati.